Rabu, 09 Mei 2012


Tugas askeb Iv
ABORTUS

disusun oleh :

YELMIA PITRI NELTA




STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANg
2012


 
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR PUSTAKA
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
BAB II TINJAUAN TEORITIS
            2.1 Defenisi abortus
            2.2 Etiologi abortus
            2.3 Patologi abortus
            2.4 Jenis-jenis abortus
            2.5 Abortus secara klinis
            2.6 Diagnosis abortus
            2.7 Komplikasi
            2.8 Dampak psikologi pada ibu
            2.9 Penatalaksanaan abortus
            2.10  konsep asuhan manajemen kebidanan
            2.11  data fokus
BAB III : PENUTUP
            3.1 kesimpulan
            3.2 saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar belakang
Kematian maternal merupakan masalah besar, khusunya dinegara yang sedang berkembang sekitar 98 – 99 % kematian maternal terjadi dinegara berkembang, sedangkan dinegara maju hanya sekitar 1 – 2 %. Sebenarnya sebagian besar kematian tersebut masih dapat dicegah apabila dapat diberikan pertolongan pertama yang adekuat (Manuaba,2007)
Menurut laporan WHO tahun 1996, terjadi kematian maternal sekitar 586.000 orang/tahun, sedangkan kematian perinatal adalah sekitar sepuluh juta. Sekitar 98-99% kematian terjadi dinegara berkembang (573.000 orang). Sekitar sepertiga kematian terjadi akibat pertolongan gugur kandung tidak aman dan tidak bersih (191.100 orang). Penyebab utama masih tetap trias penyebab kematian berupa pendarahan 60% (343.000 orang), infeksi 25% (143.250 orang), gestosis. Penyebab lain hanya menimbulkan kematian pada 5% kematian maternal/perinatal.
Lamanya kehamilan yang normal adalah 40 minggu dihitung dari haid pertama yang terakir. Kadang-kadang kehamilan berakir sebelum waktunya dan ada kalanya melebihi waktu normal.
Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidu, yaitu sebelum kehamilan berusia 22 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya pendarahan pada wanita yang sedang hamil, dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yang pertama yaitu abortus akibat kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukan kantong kehamilan yang kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, dimana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan (obstetric patologi FK UNPAD)



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1.       Defenisi abortus
Abortus adalah keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup di luar kandungan dengan berat badan kurang dari 1000gr atau umur kehamilan kurang dari 28 minggu (manuaba 1998:214).
Abortus adalah berakirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk hidup diluar kandungan (sarwono, 2006)
Abortus adalah terhentinya,proses kehamilan yang berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram.
2.2.      Etiologi
            Beberapa faktor yang dapat menyebabkan abortus antara lain :
a)      Faktor janin
Faktor kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta. Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yaitu :
1.      Kelainan telur, telur kosong (blinghted ovum), kerusakan embrio atau kelainan kromoson
2.      Embrio dengan kelainan lokal
3.      Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoiplast trofoblas)
b)      Faktor ibu
1.      Faktor kekebalan (imunologi) misalnya pada penyakit lupus.
2.      Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman, toksoplasma, herpes dan klamidia
3.      Kelemahan otot leher rahim
4.      Kelainan bentuk rahim
c)      Faktor bapak
Kelainan kromoson dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan abortus
d)     Faktor genetik
1.      Kelainan kromoson
Kelainan kromoson yang sering ditemukan pada abortus spontan adalah trisomi, monosomi, triploid / tetraploid
2.      Abortus dua kali karena kelainan kromoson terjadi 80 %
3.      Sindrom ehlers-danlos
Suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga mudah rupture atau pecah ( ruptur membran abortus spontan )
1.      Faktor endokrin berpotensi menyebabkan aborsi pada sekitar 10-20% kasus
2.      Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal dengan tidak cukupnya produksi progesteron )
e)      Faktor infeksi
Infeksi termasuk infeksi yang disebabkan oleh TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus) dan malaria
f)       Faktor anatomi uterus
1.      Submukosa mioma uteri
2.      Kelainan congenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus yang berat, terdapat prolip uteri
3.      Serviks inkompeten


2.3.            Patologi abortus
Pada permulaan terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam, sedangkan pada kehamilan 8 – 14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karna itu akan banyak terjadi pendarahan. Pendarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta terlepas segera dan terlepas dengan lengkap (Sarwono,2008)

2.4.            Jenis-jenis abortus
1.      Abortus spontan
Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
2.      Abortus buatan
Adalah tindakan abortus yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan kehamilan sebelum umur 28 minggu atau berat janin 500 gram.
a.       Abortus provokator medisinalis.
Abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital ibu hamil, jika diteruskan, kehamilannya akan lebih membahayakan jiwa sehingga terpaksa dilakukan abortus buatan
b.      Abortus provokatus kriminalis
Abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan, diantaranya akibat perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

2.5.            Abortus secara klinis
1.      Abortus imminens
Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya pendarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih didalam uterus dan tanpa dilatasi servik. Dalam hal ini keluarnya fetus masih bisa dicegah dengan memberikan obat-obatan hormonal dan antispasmodika serta istirahat.
Ciri-ciri
a.       Terasa nyeri/kram pada abdomen ringan
b.      Disertai perdarahan ringan, encer.
c.       Pemeriksaan dalam :
-          Ø tertutup
-          Hegar positif
-          Piskacek positif
-          Chadwieck postif
d.      Tes kehamilan positif

2.      Abortus insipiens
Terjadi pendarahan ringan hingga sedang pada kehamilan muda dimana hasil konsepsinya masih berada dalam kavum uteri. Kondisi ini menunjukakan proses abortus sedang berlangsung dan akan berlanjut menjadi abortus inkomplit ataukomplit, dengan tanda-tanda perdarahan sedang hingga banyak, kdang-kadang keluar gumpalan darah, servik terbuka, uterus sesuai usia kehamilan, kram nyeri perut bagian bawah karena kontraksi rahim kuat, akibat kontraksi uterus jadi pembukaan, belum terjadi ekspulsi hasil konsepsi.

Ciri-ciri :
a.       Terasa nyeri, kram berat
b.      Perdarahan banyak bahkan disertai gumpalan
c.       Pemeriksaan dalam
-          Pembukaan sudah ada
-          Ketuban menonjol
-          Terasa kontraksi uterus berlanjut
d.      Tes hamil mungkin masih positif

3.      Abortus inkomplet
Perdarahan pada kehamilan muda dimana sebagian dari hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri melalui kanalis.

Ciri-ciri :
a.       Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada didalam uterus
b.      Merupakan ancaman terjadi perdarahan
c.       Pemeriksaan dalam :
-          Pembukaan masih ada, mungkin teraba jaringan sisa
-          Perdarahan mungkin makin bertambah, setelah pemeriksaan dalam
d.      Tes kehamilan mungkin masih positif, tetapi hamil tidak dapat dipertahankan

4.      Abortus komplit
Perdarahan pada kehamilan muda dimana seluruh dari hasil konsepsi telah dikeluarkan dari kavum uteri, ditandai dengan perdarahan barcak hingga sedang, servik terbuka/tertutup. Uterus lebih kecil dari usia gestasi, sedikit atau tanpa nyeri perut bawah dari riwayat hasil konsepsi.

Ciri-ciri :
a.       Perdarahan sudah minimal
b.      Jaringan sudah ekpulsi total
c.       Besarnya uterus mendekati normal
d.      Pemeriksaan dalam :
-          Pembukaan masih ada, jarinagn kosong
-          Perdarahan minimal

2.6.            Diagnosis abortus
a.       Abortus imminens
Diagnosis abortus imminens ditentuka karena adanya perdarahn melalui ostium uteri eksternum, disertai sedikit mules sedikit atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuanya kehamilan, serviks belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada beberapa wanita hamil dapat timbul perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya datang jika terjadi pembuahan. Hal ini disebabkan oleh penembusan villi koriales kedalam desidua, pada saat implantasi ovum. Perdarahn implantasi biasanya sedikit, darah bewarna merah, dan cepat berhenti, serta tidak disertai rasa mulas.
Pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosis abortus imminens salah satunya adalah dengan pemeriksaan USG. Pada saat USG dapat ditemukan buah kehamilan masih utuh. Diagnosis meragukan jika kantong kehamialn masih utuh, tetapi pulsasi jantung janin belum jelas

b.      Abortus insipiens
Diagnosis abortus insipiens ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Pada pemeriksaan dalam, ostium terbuka, buah kehamilan masih didalam uterus, serta ketuban masih utuh dan dapat menonjol.
Pada kehamilan lebih dari 12 minggu biasanya perdarahan tidak banyak dan bahaya perforasi pada kerokan akan lebih besar, maka sebaiknya proses abortus dipercepat dengan pemberian infus oksitosin

c.       Abortus inkomplit
Diagnosis abortus inkomplit ditentukan karena adanya perdarahan melalui ostium uteri eksternum, disertai mules atau adanya kontraksi uterus. Apabila adanya perdarahan banyak dapat menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan. Pada pemeriksaan vaginal, kanalis servikalis terbuka dan jaringan dapat diraba dalam kavum uteri atau kadang-kadang sudah menonjol dari ostium uteri eksternum.
Abortus inkomplit sering berhubungan dengan aborsi yang tidak aman, oleh karena itu periksa tanda-tanda infeksi atau sepsis
d.      Abortus komplit
Pada abortus komplit ditemukan adanya perdarahan yang sedikit, ostium uteri telah menutup, dan uterus telah mengicil. Diagnosis dapat dipermudah apabila hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap

2.7.            Komplikasi
Komplikasi yang paling berbahaya pada abortus adalah perdarahan, perforasi, infeksi dan syok.
a.       Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfisi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan telah diberikan pada waktunya.

b.      Perforasi
Perforasi kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hipertrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jiak ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi.

c.       Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adexa dapat terjadi dalam setiap aborus, tetapi biasanya didapatkan pada abirtus inkomplit yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe abrotion)

d.      Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik)

2.8.            Dampak psikologi pada ibu
Selain resiko secara fisik, wanita yang mengalami abortus juga akan mengalami resiko psikologis seperti adanya konflik dalam pengambilan keputusan sehingga kesulitan membuat keputusan, merasa ditekan dan difaksa, merasa tidak kuasa memutuskan (merasa berhak memilih).
Oleh karena itu WHO pada tahun 1970, menyebutkan bahwa wanita yang melakukan aborsi legal cenderung akan mengalami resiko tinggi gangguan kejiwaan paska aborsi merupakan masalah kejiwaan yang terjadi karena adanya sikap mendua dalam melakukan aborsi tetai, terlanjut dilakukan sehingga akan menggunakan dua mekanisme pertahankan kejiwaan, yaitu represi dan denial (pengingkaran diri)
Sehingga wanita yang mengalami post abortion sundrome akan mengalami perasaan bersalah, merasa harga diri rendah, insomnia dan mimpi-mimpi dan disertai mimpi buruk, sering melakukan kilas baik, adanya sikap permusuhan dan pengarahan kesalahan pada pria, menjerit, berputus asa dan depresi adanya usaha-usaha bunuh diri.
2.9.            Penatalaksanaan abortus
1.      Abortus imminens
a.       Istirahat baring
Tidur terbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah keuterus dan berkurangnya rangsangan mekanik
b.      Periksa denyut nadi dan suhu badan 2x sehari bila pasien tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.
c.       Tes kehamilan dapat dilakukan dan pemeriksaan USG untuk menetukan lebih pasti apakah janin masih hidup
d.      Pemberian obat penenang
e.       Diet tinggi protein dan viramin C
f.       Bersihakn vulva minimal 2x sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih menhgeluarkan cairan coklat
PRINSIP
Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu :
a.       Jangan langsung di curate
b.      Tentukan dulu janin mati atau hidup
c.       Jangan terpengaruh hanay hasil B-HSG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin

2.      Abortus insipiens
a.       Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberi morfin
b.      Pada kehamilan kurang darin 12 minggu, yang biasanya disertai perdaraha, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan korekan memakai kuret tajam. Suntikka ergometrin 0,5 mg IM.
c.       Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrtose 5 % 500 ml dimulai 8 tetes/menit dan naikkan sesuia kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.
d.      Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual
PRINSIP
Perdarahan pervaginaman pada kehamilan kurang dari 12 minggu :
a.       Jangan langsung di curate
b.      Tentukan dulu janin mati atau hidup
c.       Jangan terpengaruh hanay hasil B-HSG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin

3.      Abortus inkomplit
a.       Bila disertai syok karena pendarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah
b.      Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg secara IM
c.       Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual
d.      Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi

4.      Abortus komplit
a.       Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3-5 hari
b.      Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah
c.       Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi
d.      Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.


2.10 Konsep Manajemen Asuhan Kebidanan
Menajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang di gunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran serta tindakan berdasarkan teori ilmiah.Penemuan –penemuan ketrampilan dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus pada klien .Asuhan kebidanan ini adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada pasien pelaksanaannya dilakukan dengan cara bertahap dan sistematis melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan menurut Varney:
1.      Pengertian
a)      Proses pemecahan masalah
b)      Digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah
c)      Penemuan-penemuan ketrampilan dalam rangka tahapan yang logis.
d)     Untuk pengambilan suatu keputusan.
e)      Yang berfokus pada klien
2.      Langkah- langkah


1.              Pengkajian
Melakukan pengkajian dengan mengumpulkan semua data yang dibutuhkan untuk mengevaluasi               keadaan ibu yang terdiri dari Anamnesa.
                 Data ini di kumpulkn meliputi:
                  1). Data Subjektif
  a.  Biodata atau identitas klien dan suami.
ü  Nama klien : digunakan untuk membedakan antar klien yang satu dengan klien yang lain.
ü  Umur   : untuk mengetahui masa reproduksi klien yang beresiko tinggi atau tidak, <20 tahun atau > 35 tahun.
ü  Suku atau bangsa : untuk menentukan adat istiadat/budaya.
ü  Agama             : untuk menentukan bagaimana kita menberi dukungan kepada ibu selama memberikan  asuahan.
ü  Pendidikan      : makin rendahnya pendidikan ibu ,kematian bayi makin tinggi sahingga perlu di beri penyuluhan.
ü  Pekerjaan         : pekerjaan ibu yang berat bisa mengakibatkan ibu leleh,secara tidak langsung dapat menyebabkan kesejahteraan janin dalam kandungan terganggu sehingga masa kehamilan pun jadi terganggu.Pekerjaan suami untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan social ekonominya agar nasehat kita sesuai.
ü  Alamat : untuk mengetahui ibu dimana tinggal,menjaga apabila nama ibu sama agar dapat dipastikan ibu yang mana yang hendak ditolong serta mengetahui keaadan lingkungan dan tempat tinggal.
ü  Tanggal/jam: untuk mengetahui kapan ibu datang mendapatkan pelayanan.

   b. Keluhan Utama
alasan utama klien untuk datang ke pelayanan kesehatan dan apa-apa saja yang dirasakan klien.
Kemungkinan yang ditemui: ibu dengan abortus insipiens mengeluhkan nyeri perut hebat ,keluar darah pervaginam banyak dan bergumpal.
      c. Riwayat perkawianan
kemungkinan diketahui status perkawinan ,umur waktu kawin,berapa lama baru hami.Gunanya mengetahui fungsi alat reproduksi pasien baik atau tidak.
      d. Riwayat Menstruasi
menanyakan kepada pasien menarche sejak umur berapa,biasanya mulai dari usia 12-16 tahun,siklus normal berlangsung berapa hari dan lamanya sertatberapa kali mengganti duk dalam 1 hari.
      e. Riwayat Obstetric yang lalu
Kehamilan yang lalu ,kemungkinan klien pernah mengalami anemia dan  perdarahan abnormal yaitu terjadi pada masa kehamilan. Apakah klien pernah mengalami abortus pada kehamilan yang lalu.
Persalinan yang lalu, kemugkinan klien pernah mengalami persalinan spontan atau dengan tindakan ,persalianan aterm atu posterm.
Nifas yang lalu, kemungkinan keadaan keadaan involusi uterus ,lochea dan laktasi berjalan dengan normal atau di sertai komplikasi.
    f. Riwayat kehamilan sekarang
ü  HPHT : Untuk mengetahui usia kehamilan dan tafsiran persalinan.Abortus terjadi pada usia kurang dari 20 minggu .
ü  Keluhan –keluhan umun yang terjadi pada TM I,TM II,dan TM III.
Keluhan pada TM I: mual, muntah ,cepat lelah dan tidak nafsu makan.Pengkajian ini bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan adanya tanda-tanda bahaya pada           ibu hamil seperti rasa 5 L (lesu,lemah,letih,lelah,lunglai),mual dan muntah yang          berlebihan ,nyeri perut ,panas menggigil,sakit kepala( berat atau terus menerus,penglihatan kabur,rasa nyeri atau panas waktu BAK,rasa gatal vulva,vagina dan sekitarnya ,pengeluaran pervaginan,nyeri kemerahan,tegang       pada tungkai, dan oedem.
ü    Obat / suplemen termasuk jamu-jamuan yang dikonsumsi.
Untuk mengetahui si ibu mempunyai kebiasaan makan ,minum,obat-obatan / jamu,merokok ,gaya hidup yang tidak sehat selama waktu hamil tau tidak. Etiologi dari abortus antara lain : intoksikasi agen eksternal ( kecanduan alcohol,perokok dan agen lainnya),kelainan pertumbuhan hasil konsepsi karena lingkungan kurang sempurna (pemberian zat-zat makanan pada hasil konsepsi).
ü    Imunisasi
Jika ibu tidak ada imunisasi TT maka ia harus diberikan imunisasi paling sediki      2 kali selama kehamilan TM II dan TM III.
g. Riwayat kesehatan ibu
Untuk mengetahui apakah selama kehamilan pasien pernah mengalami masalah jantung,ginjal,asma,TBC,hipertensi,DM,epilepsi,dan PMS atau tidak.Etiologi abortus antara lain factor hormonal seperti DM dan gangguan kelenjer tiroid .Pada DM , kurangnya kadar hormone insulin di dalam darah ibu menyebabakan proses sintesis glukosa menjadi glikogen tidak dapat berjalan maksimal sehingga asupan energy pada janin berkurang . Hal inimenyebabkan kematian pada janin.
h. Riwayat kesehatan keluarga.
Mengetahui apakah anggota keluarga ada yang mengalami penyakit seprti jantung,ginjal,asma,TBC,hipertensi,DM,epilepsi dan PMS atau tidak.
i.  Riwayat kontrasepsi
   Kemugkinan klien pernah menggunakan alat kontrasepsi atu tidak.
j. Riwayat seksualitas.
Apakah ibu mengalami masalah selama berhubungan atau tidak. Pada wanita kehamilan muda TM I biasanya seorang wanita hamil akan mengalami penurunan keinginan berhubungan seksual dikerenakan ketidaknyamanan pada kehamilan muda.
k. Riwayat social,ekonomi dan budaya.
Kemungkinan hubungan klien dengan suami,keluarga dan masyarakat baik,kemungkinan ekonomi yang kurang  mencukupi yang gunanya untuk pemenuhan nutrisi ibu serta adanya kebudayaan klien yang mempengarauhi kesehatan kehamilan dan persalinan,

l. Riwayat spiritual
Untuk mengetahui ibadah yang di lakukan ibu. Hal ini berkaitan dengan emosional ibu, biasanya pada ibu dengan kegiatan spiritual rutin ( sholat, pengajian, dll ) lebih cenderung memiliki emosional yang stabil.
m. Riwayat Psikologis
Kemungkinan adanya tanggapan pasien dan keluarga yang baik terhadap kehamilan pasien, kemungkinan klien dan suaminya mengharapkan dan senang dengan kehamilan ini. Atau kemungkinan klien cemas dan gelisah dengan kehamilannya.
n. Kebutuhan Dasar
Kemungkinan pemenuhan kebutuhan bio-psiko yang meliputi pemenuhan nutrisi, proses eliminasi, aktivitas sehari-hari, istirahat, personal hygiene dan kebiasan-kebiasan yang dapat mempengaruhi kesehatannya dan bersalin.

2). Data Objektif
     Data objektif merupakan data yang di kumpulkan dari pemeriksaan umum dan khusus.
a.       Pemeriksaan Umum
1.      Keadaan Umum : untuk mengetahui keadaan ibu secara umum
Pemeriksaan Umum (TTV) ibu normalnya : tekanan darah pada ibu hamil normalnya 120/80 mmHg. Nadi pada ibu hamil normalnya 60 – 90 x/m. Pernafasan pada ibu hamil normalnya 16-20 x/m, suhu normalnya 36,5-37,5C, berat badan ibu naik atau turun, KU ibu dalam keadaan baik atau tidak.

2.      Keadaan Emosional : untuk mengetahui apakah keadaan emosional stabil/tidak, dan apakah terjadi keadaan emosional labil, karena tingkat nyeri yang sangat serta perdarahan hebat karena abortus insipiens.

b.      Pemeriksaan Fisik
1.      Inspeksi
Yaitu pemeriksaan dengan cara melihat kondisi fisik pasien mulai dari kepala sampai kaki. Yang di nilai adalah kemungkinan bentuk tubuh normal, kebersihan kulit, rambut rontok dan berketombe atau tidak, muka ada oedema dan cloasma gravidarum ada atau tidak, konjungtiva pucat atau tidak, sclera kuning atau tidak, mulut ada stomatitis atau tidak, leher ada pembesaran tiroid dan limfe ada atau tidak, mamae simetris kiri/kanan, papilla menonjol dan hiperpigmentasi pada areola atau tidak, colostrums ada atau tidak, pada abdomen apakah ada bekas operasi atau tidak, pembesaran perut sesuai dengan usia kehamilan atau tidak, pada abdomen ada strie dan linea nigra atau tidak, genitalia ada infeksi atau tidak, pengeluaran cairan pervaginam ada atau tidak dan jenisnya, apakah ada varises dan oedema atau tidak dan ekstremitas pergerakannya aktif atau tidak ada oedema, varises atau tidak
Yang menjadi focus pemeriksaan yaitu mata apakah konjungtiva pucat atau tidak dan wajah pasien mengalami pucat atau tidak. Genetalia untuk mengetahui apa pengeluaran pervaginam, berapa jumlahnya. Pada ibu dengan abortus insipiens pengeluaran pervaginam darah segar berwarna merah terang dan bergumpal.
2.      Palpasi
Yaitu pemeriksaan yang di fokuskan pada abdomen dengan menggunakan cara Leopold,kemungkinan yang ditemukan:
Leopold I : TFU dalam cm
3.      Auskultasi
Kemungkinan terdengar DJJ dengan frekuensi normal 120 – 160/Menit ,teratur /tidak ,intensitasnya kuat/lemah dan punctum maximumnya berada di kuadran berapa.
4.      Perkusi
Mengetahui apakah reflek patella kiri dan kana nada tau tidak,hal ini berhubungan dengan syaraf yang ada pada kaki ibu pakah berfungsi dengan baik atau tidak.
5.      Pemeriksaan penggul luar
Pemerikasaan panggul luar dilakukan degan pengukuran jangka panggul dan pada ibu multipara pemeriksaan tidak dilakukan sesuai dengan riwayat persalinan yang lalu dengan BB anak lahir 3000 gr/lebih dan bayi hidup.
6.      Pemeriksaan tafsiran berat janin (TBJ)
Kemungkinan berat badan janin normal,dengan menggunakan rumus:
(TFU dalam cm -13) x 155)
7.      Pemerikasaan dalam
Pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya penipisan dan pembukaaan servik, apa yang terdapat di dalam jalan lahir. Pada ibu dengan abortus insipiens ,pembukaan servik ada ,ketuban masih menonjol.
3). Pemeriksaan penunjang
                  -      Pemeriksaan labor
 dilakukan untuk mengetahui derejat anemia yang dialami pasien yaitu melakukan pemeriksaan Hb berhubungan seberapa banyak perdarahan yang yang telah dialami ibu.
-          USG
Kemungkinan keadaan janin hidup dan menentukan buah kehamilan masih utuh atau tidak.
-          Pemeriksaan  cardiotokografi ( CTG)
Kemunkinan DJJ  yang abnormal.
-          Inspekulo
Untuk melihat pengeluaran darah dan apakah ada pengeluaran jaringan.

2.      Langkah II: Interprestasi Data Dasar
Data dasar yang telah di kumpulkan di interprestasikan sehingga di temukan masalah atau diagnosa yang spesifik. Beberapa masalah tidak dapat di selasaikan seperti diagnosis tetapi sungguh membutuhkan penangganan yang di tuangkan ke dalam sebuah rencana asuhan terhadap klien.
Berdasarkan kasus ini ,maka kemungkinan  interprestasi data yang di timbulkan adalah:
a.       Diangnosa kebidanan
Diangnosa pada pasien adalah Ibu G..,P..,A..,H hamil dengan Abortus Insipeins ,KU ibu tidak baik.
Dasar : HPHT, gerakan janin, USG, TFU dan keluarnya darah beserta gumpalan dari genetalia ibu.

b.      Masalah
Kemungkinan masalh yang timbul adalah kecemasan
Dasar : Kehamilan dengan banyaknya perdarahan.
c.       Kebutuhan
1.)    Dukungan psikologi
Dasar  : Kehamilan dengan abortus

3.      Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa Atau Masalah Potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi ,bila memungkinkan dilakukan pencegahan sambil mengamati klien,bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa / masalah potensial ini benar- benar terjadi.
Kemungkinan diagnose atau masalah yang timbul :
A.    Masalah potensial
a.       Potensi Perdarahan
Dasar   : terjadinya abortus
b.      Dehidrasi
Dasar   : Kebutuhan cairan meningkat dalam proses abortus
B.     Diagnosa potensial
a.       Potensi Anemia berat :
Dasar   : ibu anemia sedang dengan Hb 8,9 %
b.      Potensi Syok Hemoragic
Dasar   : Kekurangan volume darah yang beredar diakibatkan                      perdarahan .

4.      Langkah IV : Identifikasi dan Menetapkan tindakan Segera
Mengidentifikasi dan perlunya tindakan segera atau tidak oleh bidan atau dokter untuk di konsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang sesuai dengan kondisi pasien.
1.      Kolaborasi dengan dokter untuk terapi.
2.      Kolaborasi dengan tim laboratorium untuk pemeriksaan darah.

5.      Langkah V : Membuat rencana asuhan
Merencanakan asuhan menyeluruh yang rasional sesuai dengan temuan dari langkah- langkah sebelumnya.Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masalah.
Intervensi :
A.    Abortus insipiens
1.      Lakukan pendekatan pada klien dengan secara therepeutik.
Dengan pendekatan di harapkan dapat trejalin rasa percaya antara pasien dengan petugas kesehatan dan pasien dapat lebih kooperatif.
2.      Berikan penjelasan pada pesien tentang abortus insipiens,informasikan keadaan janin dan konsling keadaan ibu.
Dengan penjelasaan yang baik di harapkan ibu dapat paham dan dapt beradaptasi dengan kondisinya sekarang.
3.      Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi dan tindakan.
Dengan kolaborasi tindakan yang dilakukan lebih efektif  dan dapat ditangani secara cepat. Penggantian cairan dengan pemasangaan infus ,medikamentosa untuk meghentikan perdarahan dan pencegahan infeksi serta kuretase.
4.      Anjurkan pada ibu untuk tidur baring.
Semakin banyak pasien bergerak kemungkinan perdarahan semakin bertambah.
5.      Berikan penyuluhan tentang personal hygiene
Dengan pengetahuan tentang personal hygiene dapat menghindari  kuman dan mencegah infeksi.
6.      Memotivasi untuk ibu memakan makanan yang bergizi.
Dengan nutrisi yang baik dan bergizi kebutuhan kalori dapat terpenuhi sehingga keaadaan ibu membaik.
7.      Memantau keadaan umum ibu
      Dengan memantau keadaan umum ibu dpat mendeteksi adanya       perdarahan yang membahayakan kondisi ibu

B.     Abortus imminens
1.      Beritahu ibu dan keluarga tentang ibu dan janin, bahwa saat ini keadaan ibu kurang baik karena saat ini mengalami keguguran.
2.      informasikan kepada ibu hasil pemeriksaan
3.      beritahu ibu tanda-tanda bahaya abortus
4.      anjurkan ibu untuk istirahat dengan cara istirahat baring
5.      anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
6.      Berikan ibu tablet Fe
7.      lakukan kolaborasi dengan dokter untuk penanganan selanjutnya
8.      dokumentasikan hasil pemeriksaan

C.     Abortus inkomplit
1.      Beritahu ibu dan keluarga tentang ibu dan janin, bahwa saat ini keadaan ibu kurang baik karena saat ini mengalami keguguran.
2.      informasikan kepada ibu hasil pemeriksaan
3.      informed consent untuk melakukan tindakan memasang infuse
4.      kolaborasi dengan dokter spesialis kandungan untuk tindakan kuretase dan pemberian obat-obatan
5.      berikan dukungan emosional dengan cara dampingui ibu oleh keluarga
6.      berikan tablet Fe
7.      beritahu tanda-tanda infeksi
8.      anjurkan ibu untuk istirahat
9.      dokumentasi hasil pemeriksaan

D.    Abortus komplit
1.      Beritahu ibu dan keluarga tentang ibu dan janin, bahwa saat ini keadaan ibu kurang baik karena saat ini mengalami keguguran.
2.      informasikan kepada ibu hasil pemeriksaan
3.      informed consent pada ibu dan keluarga untuk tindakan rawat inap dan pemasangan infuse
4.      kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat dan kuretase
5.      anjurkan ibu banyak istirahat
6.      dokumentasikan hasil pemeriksaan


2.11 DATA FOKUS
1.      Nama istri       :
 Umur             :
2.      Alasan masuk / keluhan utama           : : ibu dengan abortus insipiens mengeluhkan nyeri perut hebat ,keluar darah pervaginam banyak dan bergumpal.
Keluhan pada ibu:
Trimester pertama       : Mual-muntah dan tidak nafsu makan
                                     Ibu merasa 5 L (lesu, lemah,letih,lelah ,lunglai)
3.      Pola makan ibu saat hamil:
Pagi    : roti + 1 gelas the manis 250 cc
Siang  : 1 piring nasi sedang + 1 potong kecil ikan + 3 potong tempe ukuran 2x2cm + 2 sendok makan sayur + 2 gelas air putih 250cc
Malam            : 1 piring nasi sedang + 3 potong tahu ukuran 2x2cm + 3 potong tempe ukuran 2x2cm + 2 sendok makan sayur bayam + 2 gelas air putih 250cc
4.      Pola Istirahat
Pada siang hari                       : 1 jam
Pada malam hari         : 7 jam
5.      Pemeriksaan khusus
Mata : konjungtiva pucat
Muka : pucat dan ibu kesakitan
6.      Pemeriksaan labor
Hb : 8.9 %





           



BAB III
PENUTUP

2.1              Kesimpulan
            Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidu, yaitu sebelum kehamilan berusia 22 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gram. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya pendarahan pada wanita yang sedang hamil, dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yang pertama yaitu abortus akibat kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukan kantong kehamilan yang kosong, sedangkan jenis yang kedua adalah abortus karena kematian janin, dimana janin tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan (obstetric patologi FK UNPAD)
                  Abortus dibagi menjadi 2 macam yaitu abortus spontan dan abortus buatan. Abortus menurut klinisnya terbagi menjadi abortus immines. Abortus insipient, abortus komplit dan abortus inkomplit. Abortus mempunyai berbagai macam penyebab dan juga ada komplikasinya.
Menajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang di gunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran serta tindakan berdasarkan teori ilmiah.Penemuan –penemuan ketrampilan dalam rangkaian tahapan untuk mengambil keputusan yang berfokus pada klien .Asuhan kebidanan ini adalah bantuan yang diberikan oleh bidan kepada pasien pelaksanaannya dilakukan dengan cara bertahap dan sistematis melalui suatu proses yang disebut manajemen kebidanan menurut Varney.
2.2              Saran
Dengan adanya manajemen kebidanan diharapkan mahasiswa dapat menerapkan asuhan yang diberikan sesuai dengan standar profesi






DAFTAR PUSTAKA

Obstertri patologi, fakultas kedokteran universitas padjadjaran bandung
Pengantar kuliah obstetric,Jakarta:2007
Sarwono, ilmu kandungan, yayasan pustaka. Jakarta : 2008















Tidak ada komentar:

Posting Komentar